Oleh : Muhammad Haidar Ardyazka Kelas IX Salaf I
Setiap tanggal 22 Oktober, seluruh santri di Indonesia bersukacita merayakan Hari Santri Nasional. Kemeriahan ini terasa sangat kental di berbagai pondok pesantren, termasuk di tempat saya menimba ilmu, Pesantren Madrasatul Qur’an (MQ) Tebuireng, Jombang.
Penetapan tanggal bersejarah ini bukanlah tanpa alasan, melainkan merujuk pada peristiwa monumental tahun 1945 ketika pendiri Nahdlatul Ulama, KH Hasyim Asy’ari, menggelorakan Resolusi Jihad di Surabaya. Melalui Resolusi Jihad, para santri digembleng untuk meyakini bahwa membela tanah air adalah bagian dari iman.Â
Oleh karena itu, Hari Santri bukan sekadar perayaan rutin, melainkan Momen untuk meneguhkan kembali peran strategis santri sebagai garda terdepan dalam menjaga keutuhan NKRI dan berkontribusi bagi pembangunan bangsa.
Suasana kemeriahan tersebut digambarkan dengan amat berkesan pada peringatan Hari Santri tahun lalu di Pondok Pesantren MQ Tebuireng. Para pengurus pesantren menggelar acara besar-besaran, salah satunya adalah agenda jalan sehat. Santri dari tiap-tiap asrama antusias bergotong royong membuat berbagai dekorasi kreatif guna menyemarakkan barisan parade. Rombongan berjalan mengelilingi kawasan sekitar, melintasi Kompleks Pesantren Tebuireng Pusat, Pabrik Gula Cukir, hingga akhirnya kembali ke lapangan utama.
Kegiatan jalan sehat ini sejatinya menyimpan makna yang mendalam. Yakni, bagaimana para santri diajak napak tilas perjuangan para Masyaikh Tebuireng. Jika dahulu para santri rela berjalan jauh menembus medan perang tanpa kenal lelah demi mengawal keselamatan kiai, menjaga tegaknya agama, dan membela keadilan, maka jalan sehat hari ini menjadi sarana bagi kami untuk meresapi keteguhan hati mereka.
Setelah seluruh rombongan kembali berkumpul di lapangan utama, suasana riuh menyelimuti puncak acara pembagian doorprize. Deg-degan menyelimuti para santri setiap kali angka kupon dibacakan oleh panitia dari atas panggung untuk memperebutkan berbagai hadiah, mulai dari buku hingga gitar akustik. Kegembiraan terasa begitu membuncah karena seluruh santri dapat berkumpul dan bersenang-senang bersama.
Bahkan pada hari peringatan dan sehari setelahnya, kelonggaran waktu di pondok memberikan warna tersendiri. Ada yang menggunakannya untuk beristirahat, menonton tayangan edukatif bersama pembina, hingga yang tetap tekun memegang Al-Qur’an demi mengejar target wisuda binnadzor maupun hafizh.
Namun, di balik kegembiraan itu, memang ada perenungan di jiwa kami. Sejarah mencatat bahwa pada masa penjajahan, para santri rela mempertaruhkan nyawa untuk melawan penindas demi membebaskan KH Hasyim Asy’ari yang ditangkap dan disiksa oleh pasukan Jepang. Keberanian itu berakar dari tekad melawan ketidakadilan. Apabila kita refleksikan pada masa kini, ada sebuah pertanyaan : mengapa para santri tidak mengangkat suara untuk membela Indonesia dari ulah tangan-tangan rakus tak bertanggung jawab.
Para santri memang memiliki tanggungjawab dalam memperbaiki Indonesia hari ini dan kedepan. Sebab, kami dididik untuk senantiasa berlaku jujur dan beradab. Pada akhirnya, Hari Santri telah menjadi tradisi dan nilai luhur yang diwariskan secara turun-temurun di lingkungan pesantren.
Dan, masyarakat atau alumni yang tidak lagi berada di dalam pondok tentu memiliki cara tersendiri untuk merayakan dan menghayatinya, meskipun tidak megah. Yang terpenting, semangat perjuangan, kejujuran, dan keberanian melawan ketidakadilan dari para santri terdahulu harus tetap menyala di dalam dada kita semua.




