Oleh : Ahmad Rizieq Mumtaz Kelas 8 Salaf 1
Senin 26 Januari 2026 yang lalu saya mengikuti pelatihan Jurnalistik yang diadakan oleh MKKS SMP Swasta Kabupaten Jombang. Pelatihan Jurnalistik ini bertempat di SMP A Wahid Hasyim Tebuireng Jombang.
Dalam mengikuti pelatihan Jurnalistik ini, saya ditunjuk sebagai perwakilan Ekstrakurikuler Jurnalistik SMP Al Furqan MQ bersama teman saya, yaitu, Eiza. Karena baru pertama kali menjadi perwakilan sekolah untuk kegiatan pelatihan perasaan saya saat itu gugup. Perasaan gugup ini terus terasa ketika berpamitan dengan bapak ibu guru, dan ketika di antar oleh Pak Luqman dan Pak Ali sampai ke SMP A Wahid Hasyim Tebuireng Jombang.
Setelah sampai dan kembali berpamitan kepada Pak Luqman dan Pak Ali, saya dan Eiza dipandu menuju Aula SMP A Wahid Hasyim oleh salah satu panitia disana. Lalu saya dan Eiza memilih tempat duduk terdepan, sembari menunggu peserta peserta lainnya.
Setelah menunggu beberapa waktu, acara pelatihan Jurnalistik dimulai dengan sambutan dari tamu, ketua MKKS SMP Swasta Kabupaten Jombang, ketua panitia dan narasumber. Mulai dari Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Jombang, Ibu Dra. Wor Windari, M.Si., Ketua MKKS SMP Swasta Kabupaten Jombang Bapak Mochammad Yusuf, S.Ag., M.Pd., narasumber yaituBapak Rojiful Mamduh dari Jawa Pos Radar Jombang, serta Ketua Panitia sekaligus Kepala SMP AWH, yaitu Bapak Dwi Rahmat Siswoyo.
Dalam sambutannya, Ibu Wor Windari memberikan apresiasi atas bakat menulis yang dimiliki oleh siswa-siswi SMP Swasta di Kabupaten Jombang. Dan memang, pelatihan Jurnalistik ini bertujuan untuk menambah pengetahuan kami tentang praktik menulis dan mengenali dunia Jurnalistik dengan baik.
Dari pagi hingga siang, beberapa praktik mengenali menulis berita, sampai merangkum buku, hasil tulisan saya dan Eiza belum sempat terpilih menjadi karya tulis terbaik. Meski demikian, saya ambil kesimpulan dan pelajaran penting dari pelatihan Jurnalistik ini. Yaitu, belajar bukan soal siapa yang lebih unggul.
“Kita belajar menulis agar tulisan kita berkualitas. Dengan memperbanyak praktek menulis dan apabila semakin banyak kita menulis, pengalaman menulis kita bertambah. Saya masih ingat dulu, ketika saya masih belum memiliki bakat dan minat apapun di dunia penulisa, dan setelah saya mengikuti bidang jurnalistik ini, saya merasa saya telah berubah. Saya bisa mulai menulis. Dan tulisan saya lebih jelas dan baik dibanding dulu yang hanya sekedar menulis kata kata inti saja tanpa menyambung sambungkan tiap kata, kalimat, dan paragraf,” kata Pak Rojiful Mamduh.
Dan saya setuju dengan apa yang dikatakan Pak Rojiful Mamduh tersebut. Menulis memang bukan hanya sekedar menata kata kata. Tetapi menulis juga bisa menjadi tempat dimana kita menuangkan ide dan gagasan kita, imajinasi dan kreativitas tulisan kita.
Itu saya rasakan sendiri ketika sudah setahun lebih mengikuti Ekstrakurikuler Jurnalistik. Awalnya saya merasa belum menemukan minat dan bakat saya dalam hal apapun. Tetapi setelah mencoba mengikuti Ekstrakurikuler Jurnalistik, saya menemukan kepercayaan diri saya untuk mulai menulis.
Dari pengalaman mengikuti pelatihan Jurnalistik ini, saya mengutip sebuah pesan penting dari Imam Al Ghazali. Dalam sebuah pesannya tentang penulisan, Imam Al Ghazali menegaskan, “Kalau kamu bukan anak raja dan engkau bukan anak ulama besar, maka jadilah penulis“.
Pesan tersebut begitu penting. Karena memang menulis bukan hanya menulis. Tetapi bagi Imam Al Ghazali diibaratkan sebagai jihad intelektual, dan mengikat sebuah ilmu dan pengetahuan agar tidak hilang dan terlupakan begitu saja.
Selain pesan Imam Al Ghazali, pesan pentingnya menulis juga telah dikatakan oleh tokoh emansipansi perempuan Indonesia, yakni RA Kartini. Beliau pernah berkata, “Rampaslah semua harta benda saya, asalkan jangan pena saya’”. Dari sini kita tahu bahwa menulis memang bukan sekadar menyusun kata-kata. Tapi juga menyebarkan pengetahuan, inspirasi, dan motivasi bagi orang lain.





One Response
Alhmdllh terus semangat dalam mencoba hal yang baru