Oleh : M Akmal Faraby Kelas IX Mumtaz
Suatu hari, Tito, seorang siswa kelas 8, tumbuh dalam keluarga dengan latar belakang ekonomi yang serba terbatas. Kondisi tersebut sering kali menjadikannya sasaran ejekan di sekolah. Tak jarang, beberapa teman sekelas memandang sebelah mata dan memilih untuk menjauhinya.
Lalu, suatu siang, ketika Tito melangkah menuju kantin sekolah, suasana awal yang damai tiba-tiba berubah tegang. Langkahnya terhenti saat dihadang oleh sekelompok anak yang merasa memegang kendali di sekolah. Melihat penampilan Tito yang bersahaja, mereka menganggapnya sebagai sasaran empuk. Tanpa rasa iba, gerombolan tersebut mulai melakukan intimidasi verbal hingga kekerasan fisik ringan kepadanya.
Namun, Tito adalah sosok anak yang berhati lembut dan tidak ingin memperpanjang masalah. Ia memilih untuk menyimpan sendiri kepedihan tersebut tanpa mengadu kepada orang tua maupun guru-gurunya. Ketimbang menanam dendam, Tito mendekatkan diri kepada Sang Pencipta, menjadikannya pribadi yang makin sabar, tabah, dan tekun beribadah.
Tetapi, keteguhan hati Tito justru membuat kelompok perundung itu merasa heran. Mereka bingung melihat Tito yang tidak tampak hancur, melainkan tetap menjalani hari-harinya dengan raut wajah ceria dan penuh ketenangan jiwa.
Hingga akhirnya ketika menyaksikan ketabahan luar biasa tersebut, hati salah seorang anggota geng tergugah dan menyadari kekeliruannya. Dengan tulus, ia memberanikan diri meminta maaf kepada Tito dan mengajak anggota lainnya untuk menghentikan aksi perundungan. Pertemanan yang sehat pun terjalin, hingga akhirnya Tito dikelilingi oleh banyak sahabat sejati dan hidup lebih bahagia.
Kisah Tito memberikan gambaran nyata tentang kekuatan respons spiritual dan kebaikan hati dalam menghadapi penindasan. Kekerasan tidak selalu harus dibalas dengan dendam. Ketabahan, kedamaian batin, dan konsistensi berbuat baik justru memiliki daya untuk menyentuh nurani orang lain. Kendati demikian, cerita ini juga mengingatkan pentingnya menghentikan budaya bullying dan saling merangkul tanpa memandang perbedaan latar belakang. Khususnya di lingkup sekolah dan pesantren.
*) Cerpen motivasi, persahabatan, humor, hingga refleksi kehidupan karya para Santri SMP Al Furqan MQ ini, merupakan hasil praktik workshop penulisan bersama Alfian Bahri yang selalu tayang berkala tiap minggunya.




