Oleh : Azizan Ahnaf Kelas IX Mumtaz
Suatu hari, Memed melangkah mantap menaiki pesawat terbang bersama tiga kawan karibnya. Tujuan perjalanan mereka adalah Pondok Pesantren Madrasatul Qur’an. Di benak Memed, terpatri cita-cita mulia untuk mendalami ilmu keagamaan sekaligus bertekad menjadi seorang penghafal Al-Qur’an (hafizh).
Lalu, masa-masa awal di pesantren dilalui Memed dengan penuh antusiasme. Ia belajar dengan tekun, beradaptasi dengan cepat, serta menjalin pertemanan yang luas dengan sesama santri.
Namun, selang beberapa bulan berjalannya waktu, rasa rindu kepada orang tua mulai melanda. Perasaan tersebut perlahan berubah menjadi kekecewaan dan penurunan motivasi. Memed menjadi pemalas, sering bolos mengaji, hingga terjerumus dalam kenakalan remaja. Ia bahkan memimpin sebuah kelompok santri nakal dan berulang kali harus berurusan dengan pihak keamanan pesantren karena kenakalannya.
Tetapi, di tengah gejolak hidupnya, nurani Memed merasa hampa dan sedih atas arah hidupnya yang kian tidak menentu. Menyaksikan hal itu, seorang ustadz menghampirinya dan merangkulnya dengan nasehat penuh kehangatan. Sang ustadz mengingatkan kembali petuah kiai tentang niat awal datang ke pesantren: untuk menuntut ilmu, beribadah, dan berkhidmat. Tuturan tulus tersebut mengetuk pintu hati Memed untuk berubah.
Hingga akhirnya, Memed bangkit dan meninggalkan masa lalunya. Ia merubah dirinya menjadi santri yang tekun, santun, dan taat beribadah. Perjuangan panjang dan kesabarannya membuahkan hasil manis. Memed berhasil menyelesaikan hafalannya secara sempurna dan resmi diwisuda sebagai seorang hafizh Al-Qur’an pada tahun 2026.
Kisah perjalanan Memed mengajarkan bahwa kekhilafan di masa lalu bukanlah akhir dari takdir seseorang. Kehilangan arah adalah bagian dari dinamika pendewasaan, dan pintu perbaikan diri senantiasa terbuka lebar bagi siapa saja yang mau menyadarinya. Pendekatan nasehat yang penuh kasih sayang itu bukan penghakiman. Tetapi, merupakan kunci utama dalam membimbing seseorang kembali melangkah di jalan yang benar.
*) Cerpen motivasi, persahabatan, humor, hingga refleksi kehidupan karya para Santri SMP Al Furqan MQ ini, merupakan hasil praktik workshop penulisan bersama Alfian Bahri yang selalu tayang berkala tiap minggunya.




