Oleh : Ahmad Bustami Alghony, M.Pd.
Di pengujung bulan Juni ini, menjadi tanda. Berakhirnya babak semester akhir. Tanda ini juga merubah suasana kelas dan halaman SMP Al Furqan MQ.
Ruang-ruang kelas yang biasanya riuh oleh diskusi, setoran hafalan, canda tawa, hingga teguran guru, perlahan kembali hening. Berdiri di ambang pintu kelas VII Al Qamar dan menatap deretan bangku yang kini kosong memercikkan perenungan yang teramat dalam. Bangku-bangku kosong itu bukanlah sekadar perabotan kayu yang mati. Ia adalah saksi bisu dari sebuah proses kemanusiaan dan adaptasi yang luar biasa selama satu tahun terakhir.
Di bangku-bangku kelas VII Al Qamar itulah, terekam jejak anak-anak yang baru belajar merantau, melawan rindu pada rumah, dan bertarung melawan rasa kantuk demi menelaah pelajaran dan menjaga hafalan Al-Qur’an. Ada tangis diam-diam saat penyesuaian diri terasa berat, namun ada juga tawa persahabatan yang menguatkan.
Menatap bangku kosong di kelas ini berarti merayakan tuntasnya fase pertama mereka di bangku menengah pertama, sekaligus merapalkan doa sunyi:
“Tuhan, jaga anak-anak ini, mampukan mereka menghadapi kerasnya dunia luar.”
Namun, di balik keheningan kelas ini, ada satu ritual akhir tahun yang acapkali menjadi arena ketegangan psikologis: pembagian rapor.
Kepada Ayah dan Ibu Wali Santri VII Al Qamar: Mendekonstruksi Ilusi Angka Setahun yang lalu, Ayah dan Ibu menitipkan permata hati di SMP Al Furqan MQ dengan segudang harapan. Hari ini, sebuah dokumen bernama rapor berpindah ke tangan panjenengan semua.
Bagi sebagian orang tua, hari penerimaan rapor acapkali dianggap sebagai hari penghakiman. Ada dada yang membusung bangga saat melihat deretan angka yang memuaskan, ada pula raut wajah yang tertekuk kecewa saat melihat nilai yang tak mencapai ekspektasi.
Melalui tulisan ini, mari kita ubah cara pandang (shifting paradigm) kita dalam memaknai pendidikan anak-anak kita. Masyarakat modern sering kali terjebak pada ilusi positivisme—sebuah keyakinan keliru bahwa segala hal tentang kualitas, kesalehan, dan masa depan anak bisa direduksi menjadi deretan angka kuantitatif.
Kepada Bapak dan Ibu wali santri kelas VII Al Qamar, mari kita sepakati satu hal: Rapor hanyalah potret kognitif sementara dari anak anda di satu titik waktu. Ia bukanlah vonis mutlak atas masa depannya.
Rapor tidak memiliki instrumen untuk mengukur seberapa gigih anak Anda menahan rindu pada rumah demi bertahan di pesantren. Angka di atas kertas tidak bisa memotret seberapa ikhlas ia berbagi makanan dengan teman asramanya, atau seberapa tulus ia menundukkan pandangan saat berpapasan dengan asatidz.
Jangan pernah mereduksi harga diri dan martabat anak Anda hanya sebatas angka 70 atau 90 di mata pelajaran tertentu. Angka kognitif yang rendah bukanlah sebuah kegagalan, asalkan di saat yang sama, anak Anda tumbuh menjadi pribadi yang berakhlak mulia, memiliki tawadhu’, dan menghidupkan Al-Qur’an di dalam dadanya.
Ingatlah, nilai akademik yang kurang bisa dikatrol dengan bimbingan tambahan, tapi krisis adab dan moralitas membutuhkan waktu seumur hidup untuk disembuhkan.Peluklah anak Anda apa pun angka yang tertera di kertas itu. Jika nilainya kurang, berikan ia motivasi dan validasi atas perjuangannya selama setahun ini. Jangan pernah membandingkannya dengan anak orang lain, karena setiap benih memiliki musim mekarnya masing-masing.
Teruntuk Anak-Anakku Santri VII Al Qamar: Rapor Bukanlah AkhirKepada anak-anakku kelas VII Al Qamar yang sangat kami banggakan, selamat merenung. Rapor yang kini berada di tangan kalian adalah buah dari benih kedisiplinan yang kalian tanam selama setahun terakhir di SMP Al Furqan MQ.
Jika angkamu tinggi dan posisimu berada di puncak, tundukkanlah kepalamu. Ingatlah filosofi padi. Keberhasilan itu adalah titipan Tuhan dan hasil dari doa malam orang tuamu, bukan alasan untuk memelihara arogansi. Kecerdasan tanpa tawadhu’ hanya akan melahirkan kesombongan intelektual yang menghancurkan diri sendiri. Namun, jika angkamu belum memuaskan dan hafalanmu terasa berat, jangan pernah patah arang.
Kalian tidak gagal. Kalian saat ini hanya sedang diukur oleh sebuah sistem yang menguji daya ingat. Ketahuilah bahwa kelak, ujian kehidupan yang sesungguhnya akan lebih banyak menuntut daya tahan (resiliensi), integritas, dan kemampuan kalian dalam memanusiakan manusia.
Cita-cita tertinggi sebuah pengabdian pada akhirnya, di ujung tahun ajaran ini, penting bagi kita semua di lingkungan SMP Al Furqan MQ untuk kembali meluruskan niat (tashihun niat) dan menanyakan tujuan hakiki dari pendidikan yang kita jalani.
Cita-cita tertinggi kami sebagai guru bukanlah melihat kalian memenangkan kompetisi akademik dengan cara menginjak pundak kawan sendiri. Lembaga ini bukan pabrik yang bertugas mencetak robot-robot cerdas yang kehilangan nurani.
Berpijak pada prinsip Al-Adab fauqa al-Ilm (Adab berada di atas Ilmu), kami memiliki cita-cita yang jauh lebih esensial: Kami ingin memastikan kelak, saat kalian melangkah keluar dari gerbang institusi ini, kalian tumbuh menjadi manusia yang utuh.
Manusia yang nalarnya tajam untuk memecahkan masalah peradaban, nafasnya senantiasa dihiasi ayat-ayat suci, namun hatinya tidak pernah mati dalam merasakan penderitaan sesamanya.
Selamat menatap bangku kosong untuk sejenak, anak-anakku. Selamat menikmati libur panjang dan kembali ke dekapan hangat keluarga. Jadikan masa jeda ini untuk merefleksikan diri, memulihkan energi, dan merawat adab di rumah.
Sampai jumpa kembali di semester depan, saat bangku-bangku itu kembali terisi, dan kalian telah siap melangkah sebagai siswa kelas VIII yang jauh lebih tangguh dan beradab.





2 Responses
Al hamdulilah , terima kasih ust atas bimbiganya, semoga jadi amal soleh. Amin.
Alhamdulillah syukron ustadz Ami berkah ilmunya aamiin🤲🏽🙏🏽