Oleh : Ahmad Muftal Barri Kelas IX Alquran
Suatu hari Aris, seorang siswa sekolah biasa, menyambut pagi dengan penuh antusias. Di bawah sinar matahari pagi yang cerah, perasaannya begitu semangat oleh cita-cita yang ingin ia raih. Bagi Aris, setiap hari baru di sekolah adalah langkah penting menuju masa depannya.
Lalu, sesampainya di sekolah, beberapa teman sekelas menghampirinya dan meminta Aris untuk langsung membersihkan ruangan kelas. Aris diminta untuk Piket pagi itu. Tanpa prasangka buruk sedikit pun, Aris mengangguk ramah dan mengiyakan perintah temannya.
Namun, usai menyapu dan merapikan kelas, Aris baru menyadari sebuah keanehan. Ternyata tidak ada seorang pun teman sekelompoknya yang ikut piket melainkan hanya dirinya sendiri. Kemudian, datanglah sekelompok siswa yang kerap merundung Aris. Tepat seperti dugaan Aris, mereka mulai berbuat usil—mengambil barang-barangnya secara paksa, meminjam peralatan sekolahnya tanpa izin.
Tetapi, meski diperlakukan demikian, Aris memilih untuk tidak membalas. Ia hanya menarik napas panjang dan Tetap tersenyum. Aris diam, berusaha tenang.
Hingga akhirnya Aris melangkah pulang dengan dada yang sesak dan perasaan jengkel. Kendati demikian, ia menolak untuk kalah oleh keadaan. Aris tetap berkeyakinan di dalam hatinya bahwa setiap ujian berat yang ia lalui hari ini adalah bagian dari proses pembentukan diri menuju keberhasilan di masa depan.
Kisah ini mengajarkan bahwa meskipun kita tidak selalu bisa mengendalikan tindakan buruk orang lain terhadap kita, kita memiliki kuasa penuh untuk menjaga semangat pantang menyerah dalam diri sendiri.
*) Cerpen motivasi, persahabatan, humor, hingga refleksi kehidupan karya para Santri SMP Al Furqan MQ ini, merupakan hasil praktik workshop penulisan bersama Alfian Bahri yang selalu tayang berkala tiap minggunya.




