Oleh : Ahmad Dahlan Kelas IX Bahasa
Suatu hari, dua orang sahabat berusia tujuh tahun saling berpelukan erat. Mereka harus berpisah karena melanjutkan sekolah di tempat yang berbeda. Salah satu dari mereka menangis tersedu-sedu karena belum siap ditinggalkan oleh sahabat perempuannya.
“Yang sabar, ya. Aku tidak akan lama, kok,” bisik anak perempuan itu untuk menenangkan sahabatnya.
Anak perempuan itu bernama Olivia. “Aku akan terus menunggumu, Liv,” jawab anak laki-laki itu dengan suara terbata-bata.
Anak laki-laki itu bernama Galen. Akhirnya, Olivia melepaskan pelukannya dan berjalan menuju mobil keluarga sambil melambaikan tangan.
Lalu, sepuluh tahun pun berlalu. Di sebuah sekolah menengah, terdapat kelompok persahabatan yang beranggotakan empat siswa: Dian, Clara, Vina, dan Galen.
Suatu hari, kelas mereka kedatangan murid baru bernama Olivia. Oleh guru, Olivia diminta duduk di bangku tepat di belakang kelompok empat sekawan tersebut. Dengan ramah, Olivia menyapa mereka satu per satu.
Namun, salah satu dari mereka merespons sapaan itu dengan sangat dingin, yaitu Galen. Ketika tiga teman lainnya bertanya alasannya, terungkap bahwa Galen bersikap demikian karena ia enggan berinteraksi dekat dengan perempuan mana pun selain sahabat masa kecilnya yang selalu ia nanti.
Tetapi, Olivia perlahan menyadari bahwa sosok Galen yang dingin itu sebenarnya adalah teman masa kecil yang dulu berpisah darinya. Olivia pun berusaha mendekatkan diri kembali. Sikap dingin Galen lambat laun mencair, sebab dalam hatinya, Galen memang merasakan getaran yang berbeda setiap kali berada di dekat Olivia.
Hingga akhirnya, seiring berjalannya waktu, ingatan Galen terbuka sepenuhnya dan ia menyadari bahwa murid baru tersebut adalah Olivia, sahabat masa kecil yang selama ini ia tunggu-tunggu. Hubungan persahabatan mereka pun kembali hangat, erat, dan bahagia seperti sedia kala.
Ketika takdir mempertemukan mereka kembali, rasa canggung dan jarak waktu melebur oleh kehangatan serta usaha untuk saling mengenali. Refleksi dari kisah ini menunjukkan bahwa ikatan tulus yang dibangun atas kebaikan dan ketulusan masa kecil tidak akan pernah benar-benar pudar; ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk bersemi kembali.




