Bagian I
Oleh : Mahir Alfaruq Daizzulhaq Kelas VIII Mumtaz
Malam ini, angin sepoi-sepoi tak berirama menemaniku. Dalam kegelapan malam dan kesunyian yang menghanyutkan suasana, aku meminum segelas Teh Hijau tanpa gula yang menjadi minuman favoritku.
Aku hidup di perantauan. Dan bapak ibuku merupakan orangtua yang kurang mampu. Sehingga membuat kondisi semacam itu harus membuatku merantau ke Ibukota. Harapannya, aku bisa merubah nasib kedua orangtuaku.
Dari sebelum merantau, sudah banyak sekali kejadian hidup yang ku alami. Sebagian kecil kebahagiaan. Namun sebagian besarya adalah kesengsaraan.
Dimaki, ditipu, dan kejadian buruk lainnya pernah kualami. Dan hanya meninggalkan luka batin, serta perasaan yang sangat sakit. Dan ya, dari luka-luka itu aku ingin segera pergi.
Perkenalkan, namaku Yutaka atau biasa dipanggil Taka. Memang, Teh Hijau menjadi minuman favoritku. Karena rasanya yang khas, mudah didapat, dan tentu saja sedikit pahit. Kepahitan inilah yang sering aku rasakan sejak dulu.
Dimana ketika aku dilahirkan di sebuah desa yang miskin, pemerintah di negara ini selalu dan masih tidak adil. Di lingkungan kampungku, anak-anak yang harusnya menghabiskan waktunya untuk belajar dan bermain malah justru sudah harus bekerja membantu orang tuanya.
Anak-anak tersebut terpaksa membantu pekerjaan orang tuanya agar bisa mendapatkan sesuap nasi yang lebih. Seperti di keluargaku sendiri, bapaku bekerja sebagai petani dan ibuku bekerja sebagai asisten rumah tangga, dan aku membantu mereka setiap hari.
Meskipun menghadapi masalah ekonomi yang sangat sulit, syukur keluarga kami berhasil keluar dari beban tersebut karena kegigihan ayahku. Ia berhasil beralih pekerjaan menjadi nelayan yang dibayar 3 kali lipat dari pekerjaanya sebelumnya.
Dari penghasilan itu aku akhirnya dapat meneruskan sekolah lagi seperti anak-anak biasa. Aku mulai menjalani tahun-tahunku sebagai siswa seperti biasanya.
Sampai akhirnya, dari yang awalnya sempat putus sekolah, aku berhasil bersekolah sampai lulus di jenjang menengah atas. Bahkan setelah lulus, aku diterima di Perguruan Tinggi yang berada di pusat Ibukota.




