Oleh : Moh. Adib Maulana Kelas IX Salaf 1
Suatu hari, Adib memutuskan untuk berpartisipasi dalam ajang perlombaan Musabaqah Qira’atil Kutub yang diselenggarakan di lingkungan asramanya. Pada babak penyisihan yang diikuti oleh enam peserta, Adib tampil sangat memukau hingga berhasil meraih nilai tertinggi dan keluar sebagai juara pertama. Keberhasilan awal ini mendatangkan kebahagiaan dan kebanggaan yang luar biasa bagi dirinya.
Lalu, kemenangan tersebut mengantarkan Adib melangkah mantap menuju babak final. Di partai puncak ini, ia harus bersaing ketat melawan dua finalis unggulan lainnya, yaitu Hanif dan Nizam. Untuk menghadapi babak penting ini, Adib berusaha mempersiapkan materi pelajarannya sebaik mungkin sejak jauh-jauh hari.
Namun, di tengah proses belajar, Adib mendapati kesulitan dalam membagi fokus dan mengatur manajemen waktunya. Konsentrasinya terpecah antara mendalami materi lomba dan kewajiban mengaji harian serta kewajiban menyetorkan hafalan rutin kepada ustadznya. Kendala pengaturan waktu tersebut sedikit banyak mengganggu ketenangan pikirannya hingga hari pertandingan tiba.
Tetapi, ketika gilirannya maju ke atas panggung, Adib awalnya mampu menyampaikan materi dengan cukup lancar. Hambatan baru muncul di pertengahan sesi saat dewan juri mengajukan pertanyaan hukum fikih yang tampak sederhana: “Apakah boleh membaca basmalah di dalam kamar mandi?”.
Akhirnya Adib, dikuasai sedikit rasa bimbang dan kurang teliti, Adib menyahut spontan bahwa hal itu diperbolehkan, padahal secara kaidah hukum asal hal tersebut tidak diperkenankan.
Hingga akhirnya, kekeliruan kecil pada pertanyaan itu berakibat fatal terhadap penilaian akhir juri. Adib harus mengikhlaskan gelar juara melayang hanya karena kesalahan sepele tersebut. Meskipun diselimuti rasa kecewa yang mendalam, pengalaman ini memberikan pelajaran berharga baginya tentang pentingnya ketelitian dan kehati-hatian dalam setiap detail ilmu.
Kisah Adib memberikan ikhtiar moral bahwa kesuksesan besar sering kali ditentukan oleh kecermatan kita terhadap hal-hal kecil. Fokus dan persiapan matang pada aspek-aspek utama tentu penting, tetapi mengabaikan detail dasar dapat menjadi celah yang menggagalkan perjuangan panjang. Kegagalan akibat hal sepele ini bukanlah akhir dari segalanya, melainkan proses pendewasaan agar kelak kita dapat bertindak lebih cermat, tenang, dan teliti di masa depan.
*) Cerpen motivasi, persahabatan, humor, hingga refleksi kehidupan karya para Santri SMP Al Furqan MQ ini, merupakan hasil praktik workshop penulisan bersama Alfian Bahri yang selalu tayang berkala tiap minggunya.




