Semenjak Ujian Nasional berganti ke sistem Asesmen Nasional (AN), metode pembelajaran turut berubah. Yang semula konvensional, dimana siswa atau santri hanya sebagai penerima materi, maka semenjak diadakannya (AN) siswa maupun santri diajak untuk menjadi subjek pembelajaran.
Sehubungan dengan itu pula, untuk menjadikan siswa atau santri sebagai subjek pembelajaran, maka harus dibarengi dengan penguatan kompetensi berliterasi.
Secara mendasar, kemampuan berliterasi memang diasah dari pembiasaan membaca dan memperbanyak ragam literatur. Dari proses inilah, akhirnya siswa atau santri dilatih untuk memiliki daya berfikir kritis dan mampu berdialektika dalam pembelajaran.
Pada praktiknya, di SMP Al Furqan MQ, hal tersebut memang telah menjadi napas pembelajaran di seluruh kelas. Sebabnya, SMP Al Furqan MQ sendiri telah berkomitmen menjunjung tinggi pembelajaran berbasis Al Quran dan Sains.
Tentunya, Al Quran dan Sains cukup kaya akan literatur yang memperkuat daya kritis para santri dalam mengikuti pembelajaran.
Dalam hal ini pula, untuk mengkonkretkan bentuk berliterasi dan memumpuk kekritisan santri yang nyata, SMP Al Furqan MQ menjadi satu-satunya sekolah jenjang menengah pertama yang memiliki agenda Bedah Buku. Seperti yang telah dilakukan di bulan Januari lalu.
Dimana Bedah Buku Antologi Puisi Wisuda Langit menjadi kajian sastra yang diikuti oleh seluruh Santri SMP AL Furqan MQ, berlangsung semarak dan menjadi perhatian tersendiri bagi Kepala SMP Al Furqan MQ, M. Abdul Ghofur, S.Pd.
“Kegiatan Bedah Buku sebagai penguatan budaya literasi di SMP Al Furqan MQ, tahun ini juga telah kita canangkan. Dimana para santri baru akan menjadi motornya, yaitu dengan menuliskan pengalamannya pertama kali di Pondok Pesantren. Sehingga targetnya, selain Bedah Buku, SMP Al Furqan MQ juga akan berupaya menerbitkan karya tulis dari para santri,” ujar M. Abdul Ghofur.





One Response
Kerennnnn