Para santri yang masih berstatus pelajar, memang masih membutuhkan banyak ilmu dan pengetahuan tentang literasi finansial di tingkat dasar. Ini penting, sebab berkaitan dengan tata kelola dan pembelajaran mengatur keuangan para santri. Baik hari ini, esok, dan di masa depannya.
Oleh karenanya, sehubungan persiapan tahun pelajaran baru 2026-2027, pembelajaran literasi keuangan ini juga penting disiapkan dan dimulai dari peran orangtua / wali santri. Untuk tahapannya, ada tiga metode yang bisa diterapkan. Sebagi berikut :
- Amplop Pos : Orangtua wajib mengingatkan dan memantau pos pengeluaran bulanan bagi anak. Dimulai dengan mencatat pengeluaran tiap bulan dan menabung sisa uang jajan tiap harinya.
- Keuangan Syariah : Orangtua perlu memberikan pemahaman perihal sistem keuangan dan prinsip muamalah (sedekah). Juga membedakan antara kebutuhan (dharuriyah) dan keinginan (kamaliyah). Dengan mengenalkan sedekah, membedakan kebutuhan dan keinginan inilah, diharapkan anak akan mampu mengatur dan memahami nilai, prinsip, dan tujuan keuangan.
- Digitalisasi : Orangtua bisa memanfaatkan digitalisasi keuangan lewat Bank Syariah yang sudah ditetapkan dan disesuaikan dengan kebutuhan anak selama di pondok pesantren.
Melalui ketiga metode tersebut, literasi keuangan anak menjadi praktik baik yang bisa disepakati dan dikerjasamakan oleh Orangtua. Harapannya, santri hari ini juga menjadi generasi yang tumbuh dengan bekal kecakapan literasi finansial yang konkret.
*) Diolah dari Otoritas Jasa Keuangan dan pelbagai referensi serta sumber lainnya.




