Oleh : Ahmad Rizieq Mumtaz Huda Kelas VIII Salaf 1
27 April 2026 di Aula Asrama Maqomin Amin, lebih tepatnya setelah salat isya berjamaah di Masjid Agung Madrasatul Quran Tebuireng Jombang. Pak Syafi’ie Wardi selaku penasihat, pada saat itu menyampaikan amanat kepada semua warga Asrama Maqomim Amin.
Beliau mengatakan jika ingin menjadi santri yang muttaqin itu harus memenuhi 3 hal amaliyah yang utama. Amaliyah pertama yaitu bersedekah.
Pak Syafi’ie mengatakan, “Jika kamu memiliki uang 1000 dan kamu menyedekahkan setengahnya. Apakah terasa sangat berat untuk dilakukan?”.
Lalu, lebih lanjut beliau berkata “Dan jika kamu memiliki uang sebesar 1 juta lalu kamu menyedekahkan setengahnya. Lebih berat mana?”.
Dari pertanyaan tersebut kita bisa memaknai bahwa sedekah tidak harus menunggu kita kaya terlebih dahulu. Semua orang wajib bersedekah.
Sebab bersedekah memberikan banyak keutamaan, mulai dari menghapus dosa, melipatgandakan rezeki, hingga menjadi penolak bala bagi kita semua.
Dari pesan Pak Syafi’ie itu, saya jadi teringat dengan salah satu kutipan Ustad Adi Hidayat. Beliau sering menyampaikan dalam tausiyahnya, bahwa sedekah terbaik adalah yang diberikan kepada anggota keluarga yang membutuhkan atau karib kerabat terdekat. Ustad Adi Hidayat mengutip itu berdasarkan hadits riwayat Bukhari.
Beliau juga menekankan pentingnya bersedekah saat dalam keadaan sehat dan kuat.
Selain itu, saya juga ingat sebuah pesan dari Ustad Abdul Somad. Beliau juga menekankan bahwa sedekah tidak akan mengurangi harta. Melainkan justru menyuburkan rezeki yang Allah titipkan kepada kita.
Lalu amalan yang kedua yaitu tentang sebuah kesabaran. Santri harus sabar. Sabar yang dimaksud disini bukan sabar yang yang umum kita ketahui. Seperti sabar menghadapi perundungan, sabar menahan ejekan dan sejenisnya.
Namun, sabar yang dimaksud adalah sabar dalam menghadapi ujian yang diberikan oleh Allah SWT. Sabar dalam proses mencari ilmu maupun maupun menghafal Alquran. Sabar untuk tetap istiqomah dalam melaksanakan amalan amalan yang baik.
Tegasan ini membuktikan bahwa hasil dari suatu proses tidaklah berasal dari cepat tidaknya kita melakukannya. Tapi hasil yang murni adalah orang orang yang ikhlas lillahi- ta’alaa.
Berkualitas atau sempurna dalam proses, memiliki pendirian yang kuat, bersungguh sungguh dan sabar dalam prosesnya.
Kutipan tersebut tenyata berhubungan dengan kutipan Buya Hamka yang menekankan bahwa sabar bukanlah sikap pasif. Melainkan, kekuatan aktif untuk bertahan.
“Syukur dan sabar itu seperti dua sayap. Sayap sebelah kanan syukur, sayap sebelah kiri sabar. Apabila salah satu dari kedua sayap itu patah, maka seseorang akan jatuh dan tidak bisa kuat lagi”, kata Buya Hamka
Masih menurut Buya Hamka, sikap sabar adalah kunci ketika sedang dihadapkan dengan ujian. Yang meliputi tiga hal: sabar dalam ketaatan, sabar dalam menjauhi larangan, dan sabar dalam menghadapi ujian.
Selain Buya Hamka. Ternyata Gus Dur juga berpegang pada konsep bahwa sabar dan memberi maaf adalah cara menghadapi hiruk pikuk kehidupan sebagai bagian dari hikmah iman.
Kemudian, amalan yang ketiga ialah, santri harus tidak mudah marah. Sebagai santri yang mempelajari ilmu ilmu agama dan Alquran sudah pasti harus memiliki kesadaran untuk tidak mudah kalah oleh amarah. Sebab, amarah bisa mengakibatkan perpecahan, pertengkaran, maupun konflik.
“Manusia wajar marah, tapi amarah ternyata harus pada tempatnya. Amarah yang diluapkan tidak pada tempatnya adalah dorongan dari setan”, seperti kata Quraish Shihab yang menekankan pentingnya mengendalikan diri dan tidak mengikuti hawa nafsu saat emosi memuncak. Serta meneladani cara Rasulullah SAW menata hati.
Selain itu, Pak Syafi’ie juga menyampaikan amanat yang tidak kalah penting untuk diingat. Yaitu bersyukur atas kenikmatan yang diberikan oleh Allah SWT.
Mengapa ?. Karena Allah SWT adalah yang maha mencukupi kebutuhan kita. Allah SWT selalu memberi kita apa yang kita butuhkan tanpa kita sadari.
Semisal kesehatan diri dan keluarga, teman, dan saudara. Namun, tidak semua orang Islam memiliki iman yang kuat seperti itu. Disisi lain, meskipun banyak orang orang yang mendustakan nikmat pemberian dari Allah SWT, tetapi Allah SWT masih selalu mengampuni dan memaafkan semuanya hambanya.
Yang terakhir, Pak Syafi’ie mengatakan bahwa, setiap manusia tidak luput dari kesalahan. Lebih jelasnya, semua manusia pasti pernah melakukan kesalahan. Bahkan para nabi dan rasul juga memiliki kesalahan.
Nabi Adam AS dulu dikeluarkan dari surga bersama Hawa, karena disebabkan memakan buah yang dilarang Allah untuk dimakan. Karena terhasut oleh godaan syaiton.
Oleh karenanya, kita sebagai santri harus selalu berhati-hati dalam berfikir dan bertindak. Serta mengamalkan tiga pesan Pak Syafi’ie tadi, supaya menjadi santri yang muttaqin




