Oleh : M. Haidar Ardyazka Kelas VIII Salaf 1
Pada beberapa waktu lalu. Saat pertemuan minggu kedua ekstrakurikuler Jurnalistik, aku dan teman-temanku diajak menonton sebuah film animasi. Judulnya Grave Of The Fireflies.
Di film tersebut, menceritakan tentang sebuah perjalanan pasangan kakak beradik yang harus bertahan hidup saat Perang Dunia II. Dimana Jepang melawan tentara Amerika Serikat.
Sang kakak, bernama Seita. Dan adik perempuan yang lucu bernama Setsuko. Dalam film ini, keduanya sama-sama menjadi pemeran utama.
Kisah perjalanan dan bertahan hidup Seita dan Setsuko dimulai ketika saat mereka sedang di rumah bersama ibunya, tiba-tiba alarm peringatan adanya serangan dari musuh berbunyi. Seketika itu langsung menggendong adiknya untuk menyelamatkan diri. Dan terpaksa berpisah dengan ibunya.
Setelah serangan yang merusak dan membakar hampir separuh kota tempat tinggalnya, dan bersembunyi di tempat yang aman, Setsuko berkata bahwa dirinya ingin bertemu ibunya. Dan Seita lalu mencarinya bersama Setsuko di gedung sekolah tempat pengungsian.
Sampai di gedung sekolah, ada saudara perempuan mereka yang menghampiri. Perempuan itu mengatakan pada Seita bahwa ibu mereka tidak ada di gedung sekolah. Tetapi ada di Rumah Sakit. Langsung saja Seita mencari ibunya di Rumah Sakit.
Akhirnya, usai sekian lama berputar putar mencari ibunya, Seita akhirnya bertemu dokter. Dan si Dokter yang akhirnya menunjukan tempat dimana ibu Seita beristirahat.
Dan, alangkah beberapa kagetnya Seita ketika melihat ibunya kondisi menderita luka bakar parah di sekujur tubuhnya. Lalu, dalam beberapa hari kemudian, ibunya tak kuat lagi menahan luka bakar akibat serangan tentara Amerika Serikat sebelumnya.
Lalu, Ibu Seita dinyatakan meninggal dunia. Kemudian dimakamkan bersama korban perang yang lain. Seita dan Setsuko pun tinggal sendirian. Hanya berdua.
Mereka akhirnya pergi ke rumah bibinya untuk menumpang. Dalam perjalanan dan hari-hari yang ada, Setsuko terus menanyakan kabar ibunya. Dan Seita menjawab ibunya masih dalam perawatan.
Sampai di rumah bibinya, bibinya juga bertanya hal yang sama. Bagaimana keadaan ibunya. Seita menjawab ibunya baik dan masih di rawat. Seita melakukan hal itu agar Setsuko, tidak menangis dan bersedih.
Sudah mendapat tinggal di rumah bibinya, keesokan harinya Seita memutuskan ntuk kembali ke rumah lamanya untuk mengambil persediaan makanan yang dikuburnya di halaman belakang rumahnya, sebelum serangan udara Amerika Serikat.
Setelah itu Seita kembali ke rumah bibinya, dan memberikan semua stok persediaan makanan kepada bibinya. Setelah beberapa hari, stok makanan itu habis.
Dan bibinya memutuskan untuk menukar kimono milik ibunya menjadi beberapa kantung beras. Tetapi Setsuko langsung menangis. Karena tak mau kimono ibunya dijual untuk menjadi beras.
Tetap saja, Kimono ibu Seita dan Setsuko tetap ditukar menjadi beras. Setsuko bersedih. Dan singkat cerita, persediaan beras mereka akan habis. Seita sudah tidak bisa bekerja, karena pabrik tempatnya bekerja sudah di bom oleh tentara Amerika Serikat.
Bibi Seita akhirnya tidak tahan dengan Seita. Karena Seita dianggap pemalas, tidak mau berjuang, dan hanya makan mengandalkan bibinya. Seita pun tak enak hati atas perkataan dan ejekan bibinya.
Kemudian, Seita mengajak Setsuko pergi dengan mengemasi barang-barangnya di rumah bibinya. Mereka pamit dengan bibinya. Seita dan Setsuko pergi. Dan Seita ingat bahwa uang ibunya masih ada 7000 Yen di bank.
Uang tersebut diambil Seita. Dan dibelikan peralatan memasak dan bahan makanan. Kemudian Seita memutuskan untuk tinggal di sebuah terowongan kecil yang ada di sebuah kaki gunung terpencil. Yang di depannya ada sebuah danau yang sangat luas.
Air danau itulah yang dipakai Seita dan Setsuko untuk memasak, mandi, dan menyuci baju. Dan untuk penerangan, Seita dan Setsuko memanfaatkan cahaya dari kunang-kunang yang banyak di sekitar terowongan dan danau.
Singkat cerita, perjalanan Seita dan Setsuko makin berat. Mereka harus terus bertahan hidup dan makan yang kurang. Lama-kelamaan Setsuko terkena diare. Kondisinya memburuk. Makin kurus, dan Setsuko sering mengeluh badannya gatal-gatal.
Suatu hari, Setsuko makin lemas. Seita segera mencari makanan. Dan setelah membeli semangka, Seita menyuapi Setsuko. Setsuko tak berdaya. Kemudian, Setsuko tak bertahan. Ia meninggalkan Seita untuk selama-lamanya.
Yang membuat film ini dinamakan Grave Of The Fireflies, karena diakhir film ini ditampilkan Setsuko sempat menguburkan kunang-kunang sebelum ia sakit diare.
Pelajaran Dari Grave Of The Fireflies
Dari film ini kita dapat mengambil banyak pelajaran. Seperti rasa kasih sayang terhadap saudara, terutama adik. Dan tetap terus berjuang disaat dunia sedang tidak baik baik saja agar kita bisa tau apa pentingnya bertahan hidup
Dari sini kita juga bisa tau, jika perang adalah hal yang seharusnya ditiadakan di atas muka bumi. Karena menyebabkan banyak korban jiwa yang berjatuhan karena perang.
Dan, tetap saja. Kita harus menjaga rasa kemanusiaan kita pada sesama. Peduli secara sosial dengan cara banyak berbagi atau bersedekah.





One Response
8g45ve