Sudah lima hari, momentum Hari Guru Nasional (HGN) 2025 berlalu. Tetapi bagi para santri SMP Al Furqan MQ, peringatan HGN bukan hanya berlaku sehari saja.
Secara simbolis, apa yang diperingati dan dirayakan di HGN kemarin merupakan ajang untuk merajut, sekaligus merefleksi bagaimana hubungan atau ikatan emosional antara guru dan para santri SMP Al Furqan MQ. Dalam hubungan ini, terdapat tiga teori yang sudah dipraktikkan antara guru dengan siswa di SMP Al Furqan MQ.
Diantaranya :
- Teori Keterikatan
- Teori Pembelajaran Sosial
- Teori Perkembangan Sosio-Emosional
Untuk yang pertama, hubungan keterikatan antara guru dan santri di SMP Al Furqan MQ mengutamakan ikatan emosional yang aman dan nyaman. Sehingga hasilnya, kenyamanan dan belajar di kelas, secara tidak langsung mampu mempengaruhi peminatan dan motivasi belajar para santri di kelas.
Kemudian yang kedua, meletakkan bagaimana seorang guru ialah menjadi model perilaku tindakan, perkataan, baik yang diamati oleh santri. Sebagai sekolah STEM yang berbasis Alquran, tentu model semacam ini menjadi modal pembelajaran utama yang tiap hari dipraktikkan baik oleh guru dan santri di SMP Al Furqan MQ.
Lalu yang terakhir, penjelasannya ialah bagaimana hubungan dan karakter positif antara guru dan santri dapat meningkatkan kemampuan sosial, kognitif, dan emosional santri.
Melalui ketiga teori di atas, satu hal yang pasti bisa dibuktikkan ialah hasil berupa rentetan prestasi para santri SMP Al Furqan MQ dalam pelbagai perlombaan / kompetisi di sepanjang tahun 2025. Tanpa adanya dukungan lingkungan belajar yang baik, serta hubungan yang positif antara guru dan santri, maka akan kecil bahkan tiada hasilnya suatu pembelajaran itu tercapai.
Maka di HGN 2025 kali ini, bukan hanya kemeriahan atau perayaan yang menjadi poin utamanya. Tetapi bagaimana antara guru, santri, bahkan juga wali santri untuk turut saling bahu membahu, memberikan dukungan yang terbaik demi kemajuan mutu pendidikan di SMP Al Furqan MQ.
Sebab mutu pendidikan juga tak sebatas bangunan fisik semata. Melainkan pula harus disertai oleh hubungan sosial, emosional, lingkungan belajar yang baik antara trias pendidikan. Yakni antara guru, santri, dan wali santri.




