Pendidikan dewasa ini memang makin cair. Sinergi antara sekolah dan wali santri memang dibutuhkan supaya tujuan pembentukan karakter baik di sekolah maupun saat di rumah bisa mencapai hasil optimal.
Sinergi tersebut tidak semata hanya dilakukan berkala dalam bentuk Focus Group Discussion ataupun Workshop dengan tema Parenting bagi wali santri. Ataupun konseling melalui komunikasi wali santri dan guru.
Melalui web ini, sinergi bisa tetap terjalin dan diperkuat dengan informasi seputar Parenting yang bersumber dari jurnal-jurnal kredibel. Harapannya, dari langkah baru yang sederhana, sekolah tak hanya menyajikan informasi seputar agenda para santri. Tetapi turut pula membangun budaya berliterasi bagi guru beserta seluruh wali santri.
**
Pada edisi perdana seputar Parenting kali ini, kami menghadirkan sebuah perspektif mengenai perbedaan hukuman dan konsekuensi bagi anak.
Banyak orangtua yang terkadang masih beranggapan keduanya memiliki kesamaan. Baik bentuk maupun imbasnya. Padahal menurut beberapa praktisi pendidikan dan psikolog, keduanya berbeda. Dan berada di wilayah yang tidak sama.
Dikutip dari Parentalk.id hukuman sering kali tidak berkaitan dengan masalah perilaku dan bersifat keras. Terkadang, hukuman disengaja untuk mempermalukan anak-anak. Kemudian, soal konsekuensi adalah hasil dari suatu tindakan yang membantu tumbuh kembang anak menjadi lebih baik.
Sebagai contoh :
Kasus I : Anak enggan membereskan mainannya ketika diminta
A: Orang tua memukulnya
B: Orang tua menyita mainan tersebut seharian sehingga anak tidak bisa bermain
Kasus II : Anak membuat keonaran di sekolah
A: Orang tua memotong rambutnya asal-asalan untuk ‘memberikan pelajaran’
B: Orang tua menyita seluruh gadget-nya sepanjang petang di rumah
Nah, dalam kasus yang sama ada reaksi berbeda antara A dan B. A bermaksud membuat anak harus tahu kesalahannya. Sedangkan B adalah konsekuensi dengan tujuan anak bisa berlaku lebih baik.
Ihwal hukuman, menurut Najelaa Shihab, hukuman dengan tujuan disiplin diri pada anak, memang tidak efektif.
“Hal paling diingat tentang hukuman adalah apa yang dirasakan, emosi negatif karena merasa dipermalukan atau disalahkan, atau keinginan untuk melakukan perlawanan pada siapapun yang menjatuhkan hukuman,” jelas Psikolog Najelaa dalam bukunya Keluarga Kita: Mencintai dengan Lebih Baik.
Dan menurut Psikoterapis Amy Morin, hukuman bisa ‘efektif’ tetapi untuk jangka pendek. Efeknya, anak bisa patuh. Tetapi kepatuhan ini bukan atas dasar kesadaran.
Melainkan karena takut dengan pemberi hukuman atau menginginkan orang tua untuk berhenti menyakiti maupun mempermalukan mereka. Berdasarkan berbagai studi, anak-anak yang tumbuh dengan hukuman fisik cenderung memiliki perilaku agresif.
Kemudian untuk konsekuensi, terbagi menjadi dua bagian. Konsekuensi logis dan ilmiah.
Konsekuensi logis, berangkat dari orang dewasa dan secara langsung berkaitan dengan perilaku buruk anak. Contohnya pada kedua poin B di atas.
Sementara, konsekuensi alamiah adalah hasil langsung dari perilaku anak. Dan orang tua bisa membiarkan anak mereka menghadapi konsekuensi alamiah dengan catatan, hal tersebut aman untuk dilakukan.
Manfaatnya jelas. Anak akan mendapatkan pelajaran hidup yang penting secara langsung. Misal, seorang anak enggan makan siang karena keasikan bermain. Konsekuensi alamiahnya adalah ia kelaparan kemudian.
Menimbang dari perbedaan antara hukuman dan konsekuensi di atas, menanamkan sebuah konsekuensi lebih efektif daripada sebuah hukuman dalam memperbaiki perilaku anak-anak.




