Oleh : Mahir Alfaruq Daizzulhaq Kelas VIII Mumtaz
Waktu terus berlalu. Dan tanpa sadar, gaji dan uangku telah menipis. Aku juga belum bisa mengirimkan uang kepada kedua orangtua-ku sepeser pun. Aku merasa menjadi orang gagal.
Dan aku terus mensesap Teh Hijau favoritku. Jika dulu aku senang Teh Hijau karena rasanya yang khas, kini aku meminumnya agar memberikan rasa tenang. Kembali, perasaanku yang dulu muncul : aku hanya ingin pergi dari kenyataan ini.
Dunia serasa melambat.
“Kemana lagi,” ucapku lirih sambil memegangi layar gawaiku.
“Aku payah,” pikiranku terus berbisik.
Pikiranku mulai rusak. Semuanya terasa hancur, semua perjuangankua serasa tak ada gunanya.
Pada akhirnya, aku tetaplah orang payah. Air mataku perlahan menetes tanpa sadar.
Sudah ke sekian kalinya aku ditolak bekerja. Aturan kerja memang keji dan persyaratan kerja sekarang makin tak masuk logika. Aku menarik rambutku sangat kencang dan berteriak sekeras kerasnya.
“Argghh !,” aku menghentakkan tanganku ke meja berkali-kali sampai retak.
Putus asa begitu nyata. Tak ada lagi kesuksesan.
Akupun kembali meminum segelas Teh Hijauku. Lalu menuju ke balkon dan melihat pemandangan kota dari kamar kos atas yang begitu terang.
“Selamat Tinggal,” aku mengucapkannya. Dan terasa bebas terbang dari lantai lima.
Aku terjun. Namun saat menyentuh tanah, aku merasakan sakit yang luar biasa. Sakit yang tak bisa diungkapkan oleh kata – kata. Pandanganku lalu memudar.
Tiba-tiba, aku terbangun.
Nafasku tersengal-sengal. Aku memegangi wajahku.
“Huh. Ternyata aku hanya mimpi,” aku tersadar.
Dari mimpi ini, esoknya aku belajar dari kesalahan. Aku mulai menata waktu antara mengerjakan skripsi dan pekerjaan kantor. Hingga akhirnya, apa yang menjadi pertanyaanku dulu tentang kesuksesan telah kurasakan bersama bapak ibuku.





One Response
gh4wvb