Hari lahir Kartini yang diperingati tiap 21 April, selalu menghasilkan banyak refleksi. Termasuk upaya merawat nilai adiluhung perjuangannya terhadap kesetaraan perempuan di bidang pendidikan dan sosial.
Oleh karenanya, penting untuk dipahami bahwasannya, untuk mengenal sosok Kartini tak cukup sebatas hanya diperingati dalam sehari. Lebih afdalnya, nilai adiluhung Kartini pada dunia pendidikan turut diterapkan melalui metode dan cara yang menyenangkan juga relevan.
Berikut empat cara mengimplementasi nilai adiluhung perjuangan Kartini yang bisa berdampak panjang bagi peningkatan ilmu dan pengetahuan sekaligus prestasi bagi para santri.
- Terus Haus Akan Ilmu Pengetahuan : Semasa perjuangannya di era kolonial, Kartini menggunakan pengetahuan dan tulisan-tulisannya untuk menyebarkan gagasan kesetaraannya pada banyak sahabat penanya. Pengetahuan dan tulisannya diolah dari hasil kegemaran membaca Kartini. Jadi, semangat untuk terus membaca agar kaya ilmu dan pengetahuan seperti Kartini, wajib kita terapkan dalam belajar di sekolah dan pondok hari ini.
- Peduli Terhadap Sesama : Sekarang, banyak kasus perundungan / bullying yang terjadi di sekolah. Ini jelas tindakan yang negatif dan berdampak buruk bagi keberlangsungan belajar kita semuanya. Dan sosok Kartini, merupakan salah satu contoh tokoh yang bisa kita jadikan tauladan dalam memerangi perundungan dengan cara selalu peduli dan empati terhadap sesama teman. Sebagaimana perjuangan Kartini yang selalu peduli terhadap nasib pendidikan perempuan dahulu, lalu turut memperjuangkannya.
- Bijak Dalam Berpendapat : Dalam hal berpendapat, Kartini terkenal dengan gagasan emansipasi perempuan yang ditulis melalui kumpulan surat-suratnya dan dibukukan dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang. Maka untuk menerapkan semangat gagasan Kartini ini, kita bisa membuat catatan rutin tentang ide, dan pendapat kita. Baik di buku catatan, maupun sosial media secara bijak. Ini sekaligus bisa melatih keterampilan menulis kita.
- Self Love dan Percaya Diri : Perjuangan Kartini memang tak mudah. Seperti halnya kita dalam menimba ilmu di sekolah dan pondok. Terkadang ada rasa lelah atau kebosanan. Semuanya manusiawi. Akan tetapi yang terpenting kita harus memiliki ukuran dalam memahami kemampuan dan batas kemampuan diri. Jika lelah bisa beristirahat sejenak. Atau menyegarkan pikiran dengan membaca Alquran, menulis catatan. Jadi menyayangi diri sendiri juga perlu dalam berjuang menimba ilmu
Nah dari keempat cara ini, kita bisa mulai memahami bahwa perjuangan Kartini khususnya di dunia pendidikan, ternyata bisa kita terapkan dengan langkah-langkah sederhana. Jadi tunggu apalagi ?
*) sumber IDNtimes




