Oleh : Kepala SMP Al Furqan MQ, M. Abdul Ghofur, S.Pd.
Jelang peringatan Hari Santri Nasional (HSN) 2025 lalu, publik digegerkan oleh sebuah reportase dari salah satu televisi swasta yang mencitrakan pendidikan dan budaya di pesantren bernilai cukup negatif. Dalam reportase yang tak disertai etika jurnalistik tersebut, akhirnya yang muncul ke permukaan dan diperdebatkan ialah soal adab, kesantunan, dari para santri yang dianggap berlebihan.
Memang, itu bisa dan sah untuk jadi bahan perdebatan. Tetapi menurut hemat saya, di era teknologi informasi yang berkembang pesat saat ini, perdebatan tersebut bisa jauh lebih produktif ketika membahas model pendidikan di pesantren dalam menjawab tantangan zaman.
Hal itulah yang kerap luput dan tidak dijadikan satu diskursus dalam pendidikan kita hari ini. Padahal jika ditarik dari kacamata sejarah, pesantren merupakan lembaga pendidikan tertua di Indonesia.
Sekaligus telah banyak berkontribusi bagi perkembangan Bangsa Indonesia, baik sebelum dan sesudah Proklamasi 17 Agustus 1945.
Kembali ke persoalan utama di atas, dari reportase yang tak berimbang tersebut, tak dapat dimungkiri masih banyak publik yang sangsi terhadap dunia pendidikan pesantren. Sebagai kepala sekolah yang bertugas di lingkup pendidikan berbasis Pondok Pesantren, fenomena terbaru kali ini justru membuat saya para guru, beserta siswa-siswi termotivasi dan terpacu. Untuk terus menunjukkan kesejatian pendidikan pesantren yang sesungguhnya.
Membangun Budaya Pembelajaran STEM Berbasis Alquran
Sebagai salah satu lembaga yang bernaung di bawah Pondok Pesantren Madrasatul Quran (MQ) Tebuireng, SMP Al Furqan MQ Tebuireng Jombang sejak setahun lalu telah berkomitmen untuk mencetak generasi Qurani yang memiliki daya kritis secara saintifik.
Komitmen ini diawali dengan penandatanganan kerjasama bersama SEAMEO QITEP In Science (SEAQIS) pada (9/8/2024). Motivasi kerjasama tersebut tiada lain ialah karena, bagi kami teknologi dan sains bukanlah hal yang asing dalam ajaran Islam. Bahkan Alquran sebagai pedoman hidup umat manusia telah memotivasi kita untuk berpikir, meneliti, dan mengeksplorasi ciptaan Allah. Dalam Surah Al-‘Alaq ayat 1-5, Allah SWT memerintahkan kita untuk membaca, menuntut ilmu, dan menggunakan akal pikiran sebagai karunia yang sangat besar. Ayat ini menjadi dasar bahwa Islam sangat menjunjung tinggi ilmu pengetahuan.
Oleh karenanya, dalam konteks pendidikan modern saat ini, konsep pembelajaran saintifik yang berlandasakan Alquran akan senantiasa relevan. Relevansi ini pun telah terbukti nyata di SMP Al Furqan MQ Tebuireng Jombang.
Dalam rentang waktu setahun, kerjasama ini telah menuai hasil positif dan signifikan. Terbaru, dalam kompetisi Kuala Lumpur Engineering Science Fair (KLESF) 2025, dua santri SMP AL Furqan MQ berhasil menempati posisi 65 dari 122 negara yang menjadi peserta.
Raihan ini sukses membawa nama harum SMP Al Furqan MQ di kancah global. Dan hasil ini sukses menunjukkan karya Quentia’s Journey to the Quantum World yang berupa game inovatif sains berdasarkan fisika, menjadi karya santri yang mendunia di bidang sains dan teknologi digital.

Merunut dari apa yang telah dikaryakan santri-santri SMP Al Furqan MQ dan berbuah prestasi, ini telah menunjukkan bahwa pendidikan pesantren dengan landasan dan prinsip Alquran beserta Sains dan Teknologi juga mampu bersaing di kancah intelektual global. Dan menciptakan peluang bagi generasi muda Indonesia kedepannya.
Selain itu, satu yang terpenting untuk dicermati ialah bagaimana lingkungan pembelajaran yang turut terbangun di SMP Al Furqan MQ. Rentetan prestasi dan karya sainstifik yang terbaru, ini membuktikkan bahwasannya, lingkungan belajar yang baik dan suportif dengan di dukung model positif, akan memacu individu untuk belajar dengan mengamati. Lalu hasilnya, akan tercipta motivasi dan pengaruh belajar yang meningkat.
Teori Sosioklutural dalam pembelajaran yang dijabarkan oleh Vygotsky, juga menitikberatkan peran penting interaksi sosial dan konteks budaya dalam perkembangan kognitif. Termasuk di dalamya adalah lingkungan belajar yang kolaboratif. Dimana hasil akhirnya, siswa/santri akan terhubung dan memiliki ikatan emosional dan keterampilan sosial, yang ini juga menjadi fondasi keterampilan di bidang akademik.
Melalui dua penjelasan di atas, maka bisa dikatakan bahwasannya sekolah atau pesantren hari ini mampu menjawab tantangan dan dinamika pendidikan dengan mengukuhkan potensi diri para santri melalui prestasi dan pengembangan sosial, emosional, dan daya intelektualnya.
*) Esai merupakan bagian dari antologi opini dengan judul Mencatat Indonesia dan telah diterbitkan dalam program nasional Menulis Buku Gratis bagi para guru dan kepala sekolah oleh Nyalanesia.id





One Response
Alhamdulillah…sukses selalu Pak Ghofur.
Semoga SMP Alfurqan MQ semakin maju dan berprestasi👍